Ungkap Luka Pilkada 2024 di Forum Sinode GMIM, Yulius Selvanus: Gereja Harus Jadi Rumah bagi Semua
MANADO — Suasana pembukaan Sidang Majelis Sinode Istimewa (SMSI) ke-82 Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) di Manado Convention Center, Kamis (24/9/2026), mendadak berubah penuh keheningan ketika Gubernur Sulawesi Utara Yulius Selvanus membuka sisi personal dari pengalaman politik yang pernah dialaminya.
Di hadapan para pendeta, pelayan khusus dan ribuan Anggota Majelis Sinode, Yulius mengungkap pengalaman yang menurutnya masih membekas sejak momentum Pilkada 2024.
Yulius mengaku pengalaman tersebut berkaitan dengan keberadaannya sebagai warga dan jemaat GMIM.
Ia menyampaikan bahwa pada masa Pilkada 2024 dirinya pernah mengalami penolakan ketika hendak beribadah di sebuah gereja. Pengalaman itu, menurut pengakuannya, meninggalkan luka emosional yang hingga kini belum sepenuhnya hilang.
“Saya Gubernur mu hari ini masih ada trauma,” demikian penggalan pernyataan Yulius yang diberitakan sejumlah media lokal saat membuka SMSI ke-82 GMIM.
Pernyataan tersebut disampaikan bukan dalam konteks kampanye, melainkan ketika ia berbicara mengenai hubungan antara gereja, jemaat dan kehidupan sosial masyarakat.
Menurut laporan yang beredar, pengalaman pada masa Pilkada itu bahkan membuat Yulius mengaku sempat membatasi kunjungannya ke sejumlah gereja. Pengakuan tersebut menjadi bagian paling emosional dari sambutan gubernur, karena disampaikan di tengah forum gerejawi yang sedang membicarakan masa depan pelayanan GMIM.
Dari pengalaman personal tersebut, Yulius kemudian menyampaikan pesan yang lebih luas mengenai fungsi gereja.
Ia menekankan pentingnya gereja tetap menjadi ruang persekutuan yang terbuka, tempat setiap warga dapat datang untuk beribadah tanpa membawa sekat-sekat kepentingan politik maupun perbedaan pilihan dalam kontestasi demokrasi.
Pesan itu menjadi relevan karena SMSI ke-82 GMIM sendiri memiliki agenda strategis, yakni membahas dan merevisi Tata Gereja GMIM 2021.
Yulius menilai Tata Gereja bukan hanya seperangkat aturan organisasi, tetapi pedoman dalam kehidupan berjemaat, bersekutu dan menjalankan pelayanan gereja.
Ia mengajak seluruh peserta persidangan menjalani proses tersebut dengan hati yang tulus, pikiran terbuka, suasana damai dan semangat persaudaraan.
Menurut Yulius, keputusan yang dihasilkan tidak semata-mata berkaitan dengan sistem organisasi, tetapi juga menyangkut bagaimana gereja menjalankan panggilannya di tengah masyarakat yang terus berubah.
Yulius juga mengingatkan bahwa perubahan zaman, perkembangan teknologi, dinamika sosial serta tantangan keluarga membutuhkan respons pelayanan yang relevan. Namun, menurutnya, penyesuaian tersebut tetap harus berlandaskan Alkitab dan tidak menghilangkan identitas GMIM.
Dalam konteks kehidupan sosial Sulawesi Utara, Yulius menempatkan GMIM sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan pembangunan daerah. Ia menyebut kontribusi gereja tidak hanya berada dalam bidang spiritual, tetapi juga pendidikan, kesehatan, pelayanan sosial, pemberdayaan masyarakat dan penguatan kerukunan.
Karena itu, pengalaman pahit yang disampaikan Yulius dapat dibaca sebagai pengingat agar perbedaan pilihan politik tidak berkembang menjadi jarak dalam kehidupan bergereja.
Gereja diharapkan tetap menjadi ruang persaudaraan, tempat seluruh jemaat dapat datang, beribadah dan membangun kembali hubungan yang sempat renggang akibat dinamika politik.
Di hadapan forum SMSI ke-82, pesan Yulius akhirnya bermuara pada harapan agar gereja tidak kehilangan perannya sebagai rumah bersama. Luka akibat perbedaan pilihan politik, menurut pesan yang tersirat dari pengakuannya, tidak seharusnya menjadi alasan untuk menutup pintu persaudaraan.
Justru melalui gereja, hubungan yang pernah retak diharapkan dapat dipulihkan dan semangat “Torang Samua Basudara” kembali menjadi kekuatan dalam kehidupan masyarakat Sulawesi Utara.
Red/Tim